Kamis, 23 Oktober 2014

Salah Satu Upacara Terbesar DI Desa Bugbug



Kisah Asal Muasal Mapinton di Desa Bugbug Kecamatan dan Kabupaten Karangasem Bali
Setiap 2 tahun sekali tepatnya pada saat purnamaning sasih kapat, kita temui orang membawa sesaji berupa guling menuju Pura Gumang, dan pohon-pohon jepun akan seperti lagi musim berbuah guling. Setiap bayi yang telah lahir di Bugbug, orang luar yang sudah menjadi ‘nyama’ Bugbug atau yang masih merasa satu panyungsungan akan menjadi suatu kewajiban melakukan pemintonan di pura Bukit Gumang ini, yaitu dengan salah satu sarana bebantennya adalah babi guling. Upacara ini bertepatan dengan Aci Gumang Kadulu Gede.
Terus apakah makna di balik upacara mepinton ini?
Bila dicari dari arti katanya, mepinton berasal dari Bahasa Jawa kuno yang berarti mempersaksikan. Jadi ini bersaksi atas sebuah keberhasilan. Bila kita kembali lagi ke cerita sejarah pura gumang, dimana setelah Beliau ( Bhatara Gede ) berhasil membuat sungai di sebelah selatan Bukit Dukuh yang disebut Tukad Buhu dan masyarakat mengucapkan syukur dan terima kasih dengan berjanji ngaturang pengaci-aci setiap 2 tahun dan setiap bayi yang lahir baik laki-laki maupun perempuan wajib ngaturang guling.
Diceritakan untuk mengairi areal persawahan di desa Pakraman Bugbug, krama desa itu memohon kepada Ida Bhatara Gede Gumang untuk menciptakan air dan sungai di sebelah barat bukit penyu (Bukit Dukuh). Jika permohonan mereka dikabulkan, maka mereka berjanji apabila kelak mereka beranak-pinak akan menghaturkan guling babi sebagai banten pamintonan untuk setiap kelahiran.
Mendengar keluhan permohonan krama desa, maka Bhatara Gede segera beryoga memohon kehadapan Bhatara Hyang Tolangkir (Bhatara Parameswara di Gunung Agung) agar ada aliran sungai di sebelah barat Bukit Penyu (Bukit Dukuh). Dari yoga beliaulah, diutus Bhatari Giri Putri untuk meneteskan tirtha amertha dari sebuah kendi manik.
Memenuhi titah Bhatara Parameswara di gunung Tohlangkir, lalu Bhatari Giri Putri berwujud seorang tua renta dengan membawa air suci (tirtha amertha) yang di bungkus dengan daun kaumbang (sejenis daun talas), dengan tujuan menguji kesungguhan orang-orang yang memohon air tersebut. Saat itu juga muncul seorang perwujudan dewata yang mengikuti pergumulan dan keluhan dari orang-orang yang sedang mengadakan pertemuan di sebuah hutan yang juga sangat mendambakan air untuk kelangsungan hidupnya. Dengan tidak sabaran mendengar kata-kata dari seorang tua renta (perwujudan Bhatari Giri Putri) yang seperti bergurau untuk menukar air yang ada diatas daun kaumbang itu dengan bukakak kebo (kerbau bertanduk emas).
Tak lama kemudian orang tua (perwujudan dewata) itu lalu merogoh air yang ditaruh di atas sebuah ranting kayu dari tanaman perdu yang ditaruh oleh orang tua dalam daun kaumbang itu. Ternyata setelah air itu menetes memerciki tanah, maka muncullah mata air yang sangat besar di sebuah tempat yang sekarang menjadi Telaga Tista, yang konon berasal dari kata tirtha. Bhatari Giri Putri segera tahu bahwa orang yang merogohnya itu adalah perwujudan dewata. Dan karena ketidaksabarannya itu maka ia dikatakan mangkak yang menjadi junjungan (sasuhunan) di sekitar tempat itu yang dikenal dengan sebutan Ida Gede Bangkak (Bhatara Gede Bangkak). Karena yang memohon air itu dan agar menjadi sebuah sunggi adalah Ida Gede ( Bhatara Gde Gumang ), dan agar tidak membahayakan sampai di hilir, maka dititahkanlah Ida Gede Bangkak untuk mempertanggungjawabkan dan mengendalikan perjalanan air itu sampai ke hilir. Dan sepanjang sungai tempat air itu mengalir yakni Telaga Tista ( Telaga Tirta ) sampai ke laut selatan yang disebut Tukad Buhu.
Dalam perjalanan air itu menuju hilir, sesampainya di daerah Bongsana, beliau bertemu dengan Bhatara Gede Gumang yang sedang beryoga di atas sebuah kiskis ( sejenis alat pemangkas rumput di sawah), lalu Ida Gede Bangkak bertanya kepada Bhatara Gde Gumang. Ida Gede akan diarahkan kemanakah aliran air ini? Lalu Ida Gede Gumang menunjuk ke sebuah bukit yaitu Bukit Penyu (Bukit Dukuh) seraya memohon agar air itu mengalir disebelah baratnya. Maka dipotonglah bukit yang dianggap menghalangi aliran air untuk ke barat. Potongan bukit itu menjadi sebuah gundukan di sebelah utara Batu Koek (di Daerah Bongsana), maka mengalirlah air itu di sebelah barat bukit Penyu (Bukit Dukuh) sesuai dengan permintaan Ida Gede Gumang. Dan aliran sungai Tukad Buhu itu bisa juga digunakan untuk meruat mala atau membersihkan segala bentuk mala kawisyan (segala bahaya yang diakibatkan oleh kekuatan magis/ ilmu hitam). Dan tempat reruntuhan dari potongan bukit tersebut dinamakan Ngampan Rempak.

Sejarah Pura Bukit Gumang
Pura Bukit Gumang merupakan Pura Kahyangan Jagat di bagian Tenggara, yang diempon dan disiwi oleh lima Desa Pakraman yang dikenal dengan Manca Desa. Desa-desa tersebut adalah: Desa Pakraman Bugbug sebagai pangempon utamanya, dan yang didukung oleh; Desa Pakraman Bebandem, Desa Pakraman Datah, Desa Pakraman Jasri, dan Desa Pakraman Ngis di Kabupaten Karangasem.
Pura ini sudah berdiri sejak zaman Bali Kuna, yakni pada tahun saka 11 (rah candra tĂȘng bumi, isaka eka tang bumi). Berdasarkan penelitian Pura Bukit Gumang ini berawal dari Bhatara Sang Hyang Sinuhun Kidul yang mulanya berstana di Pura Bukit Huluwatu, merupakan Putra mahkota dari Bhatara Hyang Purasadha, kemudian mempersunting Putri Bhatara Gede Sakti di Pura Bukit/Gili Byaha yang bernama Dewa Ayu Mas. Setelah beliau ardhanareswari (dampati) beliau juga disebut Bhatara Gde Sakti. Kemudian beliau menuju Ukir Gumang di Desa Pakraman Bugbug disebut Bhatara Gde Gumang. Ketika menuju Ukir Gumang beliau membawa tattwa usadha dan tattwa kadyatmikan bersama-sama dengan Bhagawan Cakru, Bhagawan Manggapuspa, Mpu Sewa-sogata (Siwa-Budha), yang hingga kini beliau berstana di Pura Ukir Gumang yang lebih dikenal dengan nama Pura Bukit Gumang.
Bhatara Gde Gumang dikisahkan mempunyai ”Putra dan Putri” antara lain; yang sulung adalah Bhatara Gde Manik Sakti, kemudian Bhatara Ayu Made, Bhatara Ayu Pudak, Bhatara Ayu Nyoman, dan Bhatara Ayu Ktut. Bhatara Gde Manik Sakti dan Bhatara Ayu Made berstana di Pura Puseh Desa Pakraman Bebandem. Bhatara Ayu Pudak yang juga dikenal dengan sebutan Dewa Ayu Mas Prasi  berstana di Pura Puseh Desa Pakraman Datah. Bhatara Ayu Nyoman berstana di Pura Mastima Desa Pakraman Jasri. Dan Bhatara Ayu Ktut berstana di Pura Puseh Desa Pakraman Ngis.
Upacara piodalan di Pura Bukit Gumang dikenal dengan Usabha Kadulu atau Haci Kadulu yang digolongkan menjadi dua yaitu :
1)      Usabha/haci Kadulu Cenik adalah merupakan upacara piodalan alit (kecil), yang dilaksanakan pada hari purnamaning sasih kapat (kartika) sajeroning penanggal ping 13, 14, 15, nuju tri wara beteng (wahya) setiap tahun ganjil.
2)      Usabha/haci Kadulu Gede adalah merupakan upacara piodalan ageng (besar), yang dilaksanakan pada hari purnamaning sasih kapat (kartika) sajeroning penanggal ping 13, 14, 15, nuju tri wara beteng (wahya) setiap tahun genap.
Hal-hal yang unik pada saat usabha/haci kadulu gede (piodalan ageng), adalah :
1.      Nguntap ngulemin para Dewa/Bhatara-Bhatari di Manca Desa, seperti; Bugbug, Bebandem, Datah, Jasri, dan Ngis.
2.      Adanya prosesi upacara mabyasa, yaitu rangkaian upacara mengusung dan menarikan jempana/joli-joli usungan para Dewa dan mempertemukan Bhatara Gde Gumang dengan Bhatara Gde Manik Sakti (Putra Mahkota).
3.      Upacara ngaturang banten pujawali secara bersama-sama dengan para Pemangku/Prajuru Dulun Desa dari Desa-desa Pakraman Manca Desa.
4.      Upacara nyaik nasi palupuhan, yaitu suatu rangkaian acara makan bersama tanpa membeda-bedakan asal-usul, trah/ras/klen dari para pengiring/pengusung/pemundut/pemedek, yang digelar disepanjang halaman natar Bale Agung di Pura Bukit Gumang.
5.      Upacara mapinton, yaitu suatu upacara ngaturang banten pamintonan berupa pejati yang berisi babi guling, yang merupakan ungkapan rasa bhakti dan bukti kesetiaan akan janji atas amanah serta anugrah yang telah dilimpahkan.
Pelingih-pelinggih utama yang ada di luhur Pura Bukit Gumang, adalah; Pelinggih gaduh maprucut sebagai stana Bhatara Gde Gumang. Pelinggih gaduh rong kalih sebagai stana Bhatara Istri. Pelinggih meru tumpang tiga sebagai stana Bhatara Tri Purusa. Pelinggih sanggar agung sebagai stana Sanghyang Luhuring Akasa. Kosepsi berdirinya Pura Bukit Gumang adalah; konsepsi rwabhineda dan sad kertih.